Remember This! "Dreams and Do it"

Selasa, 30 April 2019

Fakta Terbaru, Inilah Yang Akan Terjadi Jika Kamu Berhenti Olahraga

Artikel Olahraga dan Kesehatan

Hallo, sebelumnya saya ingin cerita, saya pernah freelance di media online olahraga. Nah, postingan kali ini saya ingin memperlihatkan nih salah satu hasil tulisan saya yang telah publish di media online olahraga www.nysnmedia.com. 

Fakta Terbaru, Inilah Yang Terjadi Jika Kamu Berhenti Olahraga
Jika berbicara mengenai olahraga, sobatmudaNYSN pasti sudah tau kalau olahraga tentu banyak manfaatnya. Olahraga dikatakan sangat baik untuk kesehatan, jantung lebih bugar, otot lebih kencang, tulang lebih kuat, tidur lebih nyenyak, mencegah penyakit, dan bahkan memperbaiki mood. Sekalipun seorang yang sakit pun apabila ditanya oleh seorang dokter, tau bahwa olahraga berguna untuknya. Namun, mengapa masih saja kita sering kali tetap memilih untuk tidak berolahraga?
Pertanyaan diatas akan menghasilkan banyak jawaban tentunya. Hal yang terutama adalah rasa malas, kemudian lelah, tidak ada waktu, bahkan tidak mempunyai peralatan olahraga. Menurut buku Age Smart, Jeffrey R dan Betty L, alasan penting mengapa kita tidak olahraga adalah anggapan akan olahraga itu hanya sebuah pilihan, artinya masih terkonstruk dalam otak ini, boleh saja dilakukan atau tidak.
Kalau sudah begitu, mari sobatmudaNYSN melihat berdasarkan keterangan ahli kesehatan, yang dilansir dari Hallodoc, sebenarnya apa sih yang akan terjadi dalam tubuh kita kalau berhenti berolahraga atau bahkan jika kamu tidak pernah berolahraga..
1. Untuk Kamu Yang 10 Hari Saja Tidak Olahraga, Perubahan Otak Bisa Terjadi
Penelitian riset kesehatan berkata bahwa olahraga menunjukkan manfaatnya pada kesehatan otak. Saat kamu berolahraga tubuh akan menyesuaikan ke sel-sel yang ada di otak. Sehingga otak kamu akan lebih fresh (muda) dan mencegah menyusutnya sel-sel di otak.
Bisa dibayangkan jika kamu berhenti berolahraga selama 10 hari saja, apa yang terjadi?
Menurut Jurnal Frontiers in Aging Neuroscience, jika kamu berhenti berolahraga sebentar saja sebenarnya sudah menyebabkan perubahan pada otak. Hal ini nantinya akan berhubungan dengan pikiran kamu, daya ingat, serta emosi kamu.
2.  Dua Minggu Kamu tidak pernah Berolahraga lagi? Baca ini
Kamu pernah berhenti berolahraga selama dua minggu, hm..coba pikirkan lagi, jangan sampai hal ini terjadi. Pasalnya, orang yang vakum olahraga selama dua minggu dikatakan akan menurun daya tahan tubuhnya. Masa sih?
Ya, tentu, misalnya saja yang berhubungan dengan kegiatan sehari-hari deh, pasti kamu akan merasa cepat capek, lelah saat berjalan jauh ataupun menaiki tangga. Menurut ahli, hal ini karena jumlah oksigen maksimum yang kamu miliki telah menurun. Semakin lama kamu meninggalkan olahraga, ya berarti semakin berkurangnya pasokan oksigen, ukurannya 10 persen dalam dua pecan dan 15 persen dalam sebulan.
Eits, bukan hanya itu, kekuatan dan kecepatan tubuh juga akan merosot. Untuk tahap “akut” nya kadar gula darah dan tekanan darah pun akan naik. Kalau sudah begitu, berisiko loh terkena diabetes. Jangan sampai ya, yuk segerakan olahraga kembali…
3.  Kalau Sebulan Penuh Tidak Olahraga?
30 Hari lamanya kamu meninggalkan olahraga, efek yang ditimbulkan hampir sama dengan berhenti berolahraga selama dua minggu. Hanya bedanya menurut dokter spesialis olahraga dari Columbia, AS, berhenti olahraga selama satu bulan bisa mengakibatkan berkurangnya kekuatan fisik.
Jadi, kalau kamu merasa tubuh kamu mulai lemas, letih, lesu, pokoknya indikasi menurun kekuatannya, yuk cepat-cepat lakukan olahraga apapun demi tubuh sendiri yang sehat.
4. Lebih Dari Sebulan, Misal Dua Bulan Berhenti Olahraga Ini Yang Terjadi
Dua bulan tidak pernah berolahraga tentu akan mendapat dampak yang lebih parah. Kalau satu bulan saja, kekuatan fisik sudah merosot, apa yang terjadi jika dua bulan lamanya?
Sebuah penelitian mengatakan efeknya jauh akan terlihat. Misal contohnya pada beberapa perenang yang telah vakum latihan selama lima minggu, efeknya terlihat pada tubuhnya, yaitu kadar lemak tubuh naik sebesar 12 persen, berat badan, lingkar pinggang bertambah, serta otot-otot mengendur.
Bagaimana apa kamu masih mau untuk tetap berhenti berolahraga?
Intinya, memulai dan mempertahankan olahraga itu mudah. Kamu hanya perlu mengubah persepsi bahwa olahraga bukanlah sebuah pilihan yang dapat dikerjakan atau tidak, yang nanti dikerjakan ataupun kapan-kapan dikerjakan. Jadikan olahraga sebuah kebutuhan, tidak terpisahkan dari kegiatan pokok sehari-harimu. Oh iya, sekalipun kamu sedang berpuasa dan merayakan hari raya Lebaran nantinya, jangan sampai ya hal tersebut menjadi alasan kamu vakum olahraga selama sebulan atau bahkan dua bulan, loh, Ingat dampak yang kamu baca diatas ya. Stay positive and healthy, sobatmudaNYSN!

Kalau kamu masih mau lihat tulisan yang lain dari saya, klik link di bawah ini ya
http://nysnmedia.com/fakta-terbaru-inilah-yang-akan-terjadi-jika-kamu-berhenti-olahraga/

Rabu, 19 April 2017

Berita Terkini Waktu itu


 Entri kali ini, 
saya akan post tentang berita-berita yang pernah saya buat

berita ini merupakan tugas dari mata kuliah di semester 5


selamat membaca, 
kalian yang baca juga bisa kok tulis di kolom comment apa pendapat kalian mengenai berita tersebut dan kekurangan yang harus ku perbaiki 


Aksi Bentrok Gojek dan O-pang

CIPUTAT-TANGERANG SELATAN. Aksi bentrok antara Ojek Online (Go-Jek) dengan ojek pangkalan (O-Pang) memanas di Stasiun Pondok Ranji (30/9) malam hari. Kejadian dipicu dari salah satu Go-Jek yang ditegur oleh seorang ojek pangkalan. Pasalnya, supir gojek merasa ia tidak melanggar batas perjanjian radius 100 m dari stasiun saat menjemput penumpang. Sebaliknya, O-Pang menganggap ojek online telah melewati batas penjemputan dan wajar apabila ditegur.
Ikri, mahasiswa yang menyaksikan kejadian tersebut menjelaskan bahwa bentrok ini hanya masalah salah paham. “kedua pihak itu emosi. Terbukti, saat ada gojek lagi yang nurunin penumpang juga, tiba-tiba ojek pangkalan menyerbu si abang dan memukulinya. Dari situ tuh bentrok dimulai” Ungkap Ikri kepada wartawan. Beruntung, aksi bentrok dari pukul 19.00 WIB ini berhasil diredam oleh pihak Kepolisian Tangerang Selatan. (SF)



Euforia Journalist Fair (J-Fair) 2016
CIPUTAT-MEDIA JAKARTA Himpunan Mahasiswa Konsentrasi (HMK) Jurnalistik untuk pertama kali mengadakan pembukaan acara Journalist Fair (J-Fair) 2016 di Taman Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi sore hari (20/10). Acara ini menarik perhatian warga dakwah, dengan mengusung tema Indonesia di era media digital serta penampilan komunitas kreasi musik, Puisi demokrasi dan media, Majelis Nurhidayah  dan pemutaran film karya mahasiswa jurnalistik.
Euforia mahasiswa dakwah melihat pembukaan serta penampilan hiburan J-Fair dirasakan oleh Dupa Pagista, Mahasiswi semester 5 Komunikasi Penyiaran Islam, pasalnya ia kaget melihat jurnalistik bisa melaksanakan acara semeriah ini. “ini langkah yang bagus sekali untuk maju, saya melihat rasa uforia sudah ada tetapi enggan mendekat. Seharusnya ada beberapa panitia yang menjemput bola, jadi penonton duduk mendekat bukan berada jauh dari panggung.” Ungkap Dupa. (SF)

Ciptakan Bisnis, Sampah Plastik Menjadi Cantik
SOFIE MEDINA PASHA
B
anyak orang mengatakan, sampah adalah hal yang menjijikan, kotor dan bau. Kehadiran sampah yang berlimpah di sekitar kerap kali membuat geram masyarakat. Namun, berbeda dengan Edy Fajar Prasetyo, mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi, Jurusan Agribisnis, UIN Jakarta, melihat sampah sebagai suatu peluang, harapan dan sumber pendapatan. Ia terinspirasi mempelopori Komunitas Eco Business Indonesia atau biasa dikenal dengan Ebi Bag sebagai bisnis ekonomi kreatif dari sampah plastik.
Menurut Edy Fajar, Eco Business Indonesia (Ebi Bag) merupakan usaha ramah lingkungan dimana dalam beraktivitas mengandung unsur 3P  yaitu people (pemberdayaan dan pemanfaatan yang akan dirasakan masyarakat), planet (sesuatu faktor yang harus disentuh sebagai bentuk usaha maksimal dalam melestarikan lingkungan), dan profit (keuntungan yang didapat selain memutarkan aktivitas usaha serta berorientasi pada pengembangan usaha dan upaya penyebaran pemberdayaan).
“Ebi bag awal terbentuk tahun 2013, awalnya itu termotivasi dari permasalahan yang ada di lingkungan masyarakat yaitu sampah, kami pun mulai mengajarkan ke masyarakat cara memanfaatkan sampah di lingkungan,” ujar Edy.
Salah satu kegiatan yang dipelopori Edy yaitu mengubah sampah plastik menjadi karya cantik seperti tas, dompet, aksesoris, bahkan karikatur dari sampah yang menjadi inovasi terbaru. Ia dan tim Ebi bag mengajak dan mengajari masyarakat sekitar untuk ikut serta dalam proses pembuatan daur ulang  sampah plastik tersebut.
Seiring berjalan waktu. Edy Fajar aktif dan menjadi founder dalam komunitas UIN Preneurs dengan usaha ebi bag, Ia sering menggalakkan gerakan peduli sampah dan berfikir kreatif dalam memanfaatkan barang yang kurang berguna dalam seminar-seminar. Dengan motto ‘Sebaik-baiknya insan adalah insan yang bermanfaat’ Edy telah menginspirasi untuk menciptakan bisnis melalui masalah kecil yang ada di masyarakat.

Melirik Ide, Tertarik Usaha
Sofiemedina
S
ukses berbisnis bisa diraih sedari muda. Pernyataan tersebut sangat lazim didengar dan sering dijadikan acuan anak muda untuk memulai usaha dengan berdagang. Seperti halnya Nur Isrojah, mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, menjadikan pernyataan tersebut sebagai acuan dalam bisnis hijabnya. Tren Jilbab yang mengalami perkembangan cukup pesat dalam lima tahun terakhir ini, dijadikan peluang bisnis oleh Isrojah untuk membuka toko online hijab, yang diberi nama Hijabstore. Pemakaian jilbab yang beragam model, bentuk, dan warna membuat Ia tertarik untuk memulai usaha tersebut.
Berani Bangkit Memulai
Sebelumnya, Isrojah mengatakan pernah mempunyai usaha dagang baju, joggerpants dan case handphone secara online yaitu @khonsa_shop. Namun, usaha tersebut tidak berjalan lancar. Mahasiswi Jurnalistik tersebut tentu tidak menyerah sampai disitu, di awal tahun 2015 ia berani bangkit dan memulai dagang kembali.
Ya karena berjualan itu pasti ada fase dimana kita lemah. Maka dari itu, saya berpikir harus bangkit kembali untuk meneruskan online shop tersebut.” Ungkap Isrojah saat ditemui wartawan Surat Kabar Jurnalis.
Akhirnya, usaha online shop pun dijalankan kembali dengan modal dari uang tabungan yang telah dikumpulkan. Produk dan nama toko online pun berubah menjadi berjualan jilbab dengan nama @hijabstore16_Awalnya stok jilbab yang Ia beli untuk dijual hanya sekitar 5-10 pcs, namun dengan kerja keras saat ini pemesanan sudah bertambah hingga 50 pcs per bulan.

Sibuk Kuliah Tak Menjadi Alasan
Banyaknya tugas kuliah di semester 5 ini, menurut Isrojah tidak membuat ia vakum meninggalkan bisnis Hijabstore. Ia tetap seimbang dalam hal kuliah dan berdagang di jejaring online. “sebisa mungkin saya membagi waktu antara kuliah dan bisnis. Salah satunya dengan cara belanja dagangan yang saya lakukan setelah pulang ataupun libur kuliah, dan itu juga biasanya saat hanya ada pemesanan atau stok hijab yang sudah mulai habis.” Kata Isrojah.
Dengan begitu bisnis yang menjual jilbab model segiempat renda, arabian scraf, dan rawis ini tetap dapat terkontrol pemesanan produk serta akun jejaring online-nya. Menurut Isrojah pemesanan atas produk Hijabstore terus bertambah setiap bulannya. tidak hanya mahasiswa UIN Jakarta yang tertarik membeli produk Hijabstore, tetapi juga orang di luar Jakarta. Dengan membayar Rp 30.000 yang belum termasuk ongkos kirim, pembeli sudah mendapatkan jilbab yang diinginkan tanpa harus ribet pergi ke toko hijab.
Cerdas Melihat Tren Sebagai Peluang
Tak hanya dari kalangan anak muda, penggemar Hijabstore juga ada dari kalangan ibu-ibu. Menurut pengusaha Hijabstore, ibu-ibu lebih banyak memesan jenis jilbab segiempat renda. Salah satu pemesannya adalah Puji Astuti, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Tangerang. Ibu berwajah oriental ini mengaku tertarik dengan model jilbab di toko online Hijabstore. Ia pada waktu itu memutuskan langsung membeli dan merasa senang dengan pelayanan dan pengiriman barang yang baik dan cepat, bahkan Puji mengakui usaha bisnis Isrojah ini cukup cerdas karena Ia pintar melihat tren sebagai peluang bisnis.
“Saya sangat apresiasi sekali ya, masih muda, kuliah, tetapi sudah punya ide menekuni untuk jualan online. Patut ditiru, dan pasti siapa saja bisa dagang, asalkan dia punya keinginan.” Kata Puji.
Sebagi seorang Ibu, Ia mengharapkan generasi muda yang lain juga kreatif dalam menciptakan peluang bisnis. Menurut Puji, tidak perlu usaha yang besar-besaran dan membutuhkan modal banyak, mulailah belajar dari usaha yang kecil saja seperti berjualan kue di kampus. Hal tersebut walaupun tergolong usaha mikro namun tetap menghasilkan uang.
Respon positif mengenai mahasiswa yang mempunyai usaha bisnis sambil kuliah tidak hanya diungkapkan oleh Puji Astuti selaku pembeli Jilbab di Hijabstore, melainkan juga dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Abdul Rozak. Ia mengatakan bahwa dagang di kalangan mahasiswa itu baik dan ada hukum mengenai berdagang dalam Islam.
“Hukum mengenai cara perdagangan yang benar ada dalam Al-Qur’an, Surah As-Saf ayat 10 sampai 12. Dalam ayat tersebut dijelaskan perdagangan yang benar harus dengan di jalan Allah SWT” Ungkap Abdul Rozak.
Dengan adanya landasan ayat Al-Qur’an tersebut, diharapkan bagi mahasiswa UIN Jakarta yang kuliah sambil berdagang atau berbisnis selalu ingat bahwa harus tetap berada di jalan Allah dengan menggunakan cara-cara berdagang yang baik. Jika hal tersebut telah dilakukan, InsyaAllah usaha bisnis pun dapat berjalan dengan lancar tanpa hambatan dan sukses bisnis di usia muda.




Makalah Sistem Perfilman Indonesia


Ini adalah contoh makalah mengenai sistem perfilman di indonesia
saya buat saat berada di semester 4

semoga dapat bermanfaat ya



ABSTRAK

SISTEM PERFILMAN INDONESIA
PERAN NEGARA DAN MASYARAKAT

Sistem merupakan komponen untuk mencapai tujuan tertentu. Dan tujuan itu ada dalam perfilman Indonesia. Perfilman Indonesia  awalnya dikembangkan oleh seniman dari kelompok sandiwara, lalu mengalami dinamika dalam perkembangan dan interaksinya dengan pemerintah dan masyarakat.
Dari hal diatas, timbulah pertayaan mayor, bagaimana peran Negara dan Masyarakat dalam sistem perfilman Indonesia? dan pertanyaan minor, apa saja peran Negara dalam sistem perfilman Indonesia? serta apa saja peran masyarakat dalam sistem perfilman Indonesia?
Menurut saya, peran Negara dan masyarakat dalam sistem perfilman Indonesia harus saling mengimbangi. Negara khususnya disini pemerintah harus melakukan pembinaan dan pengawasan, sedangkan masyarakat menghasilkan karya-karya secara bertanggung jawab.
Menurut Anwar Arifin dalam buku Sistem Komunikasi Indonesia, peranan serta hubungan film dengan pemerintah (Negara) dan masyarakat menentukan karakteristik Sistem Perfilman Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Sistem Perfilman Indonesia saat ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 menjelaskan tentang perfilman memperluas peran serta masyarakat, sehingga adanya pembaruan dalam peran masyarakat di perfilman.
Peran Negara dalam perfilman Indonesia, Salah satunya telah melakukan pengawasan dan pembinaan melalui lembaga Dewan Film dan Badan Pertimbangan serta Lembaga Sensor Film.  Sedangkan, peran insan perfilman (masyarakat) pada saat ini dilaksanakan secara bebas berkreasi, namun harus diimbangi dengan tanggung jawab sosial, terutama yang berkaitan dengan agama, kebudayaan, etika, moral dan kesusilaan.

Jadi, sistem perfilman Indonesia telah berkembang sesuai dengan undang-undang perfilman dan upaya peran pemerintah (Negara) harus diimbangi dengan peran serta masyarakat. 



MAKALAH SISTEM PERFILMAN INDONESIA
PERAN NEGARA DAN MASYARAKAT



BAB I
PENDAHULUAN

       I.            Latar Belakang
Sistem merupakan kumpulan komponen untuk mencapai tujuan tertentu.[1] Dan film adalah salah satu bagian penting dari perkembangan kehidupan manusia untuk saat ini. Film bahkan menjadi gambaran bagaimana kehidupan suatu bangsa dan masyarakat karena dalam sebuah film terdapat bahasa, kebiasaan- kebiasaan, cerita- cerita khas, lokasi- lokasi menarik dan sebuah kebudayaan atau masyarakat dalam suatu bangsa.[2]
Dalam mencapai sebuah tujuan perfilman khususnya Indonesia diperlukan sistem yang bekerja dengan baik. Perfilman Indonesia  yang awalnya dikembangkan oleh seniman dari kelompok sandiwara, lalu mengalami dinamika dalam perkembangan dan interaksinya dengan pemerintah dan masyarakat. Hubungan film dan masyarakat pada awalnya sebagai  hiburan bagi kelas bawah di perkotaan, dengan cepat film mampu menembus batas-batas kelas dan menjangkau kelas yang lebih luas.[3]  Pemerintah dan masyarakat pun menjadi bagian terpenting dalam perputaran roda sistem perfilman Indonesia. Maka dari itu, saya akan membahas mengenai “Peran Negara dan Masyarakat dalam Sistem Perfilman Indonesia”.
    II.            Rumusan Masalah
1.      Bagaimana peran Negara dan masyarakat dalam sistem Perfilman Indonesia?
1.      Apa saja peran Negara dalam sistem Perfilman Indonesia?
2.      Apa saja peran masyarakat dalam sistem Perfilman Indonesia?

 III.            Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui Peran Negara dan Masyarakat dalam sistem perfilman Indonesia.


BAB II
PEMBAHASAN
1.      Negara Dan Masyarakat Dalam Sistem Perfilman Indonesia
Pemerintah (Negara) dan masyarakat merupakan pemangku kepentingan (stakeholders) perfilman. Peran Negara dan masyarakat sangat penting dan harus saling mengimbangi satu sama lain. Negara khususnya disini pemerintah, harus melakukan pembinaan dan pengawasan terutama dalam bentuk sensor dan izin. Hal itu mencakup sensor terhadap isi film, iklan film (poster, stillphoto, thriller, banner, pamflet, brosur, baliho, spanduk, folder dan plakat) serta izin pembuatan dan pertunjukan film, karena berkaitan dengan produksi dan distribusi pesan.  Hal ini juga berkaitan erat dengan masyarakat, baik sebagai pelaku kegiatan perfilman dan pelaku usaha perfilman maupun sebagai khalayak film (penonton).[4]
Hubungan film dengan pemerintah dan masyarakat menentukan karakteristik sistem perfilman Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Berdasarkan hal tersebut, sistem perfilman Indonesia yang dikembangkan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009, yaitu disebutkan dari aspek ideologis dapat juga disebut Sistem Perfilman Pancasila. Pergantian undang-undang perfilman yang sebelumnya Undang-undang perfilman 1992 disebabkan karena setiap sistem atau teori tentang film akan mengalami revisi atau perubahan sesuai dengan zaman baru dan tampilnya generasi baru. Dan dalam UU Perfilman 2009 dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan reformasi terutama bergesernya posisi film dari rumpun politik ke rumpun kebudayaan, serta menyikapi perkembangan ilmu dan teknologi serta adanya dinamika masyarakat dalam era globalisasi. Perfilman Indonesia dipandang sebagai fenomena kebudayaan yang berfungsi melestarikan, mengembangkan, dan memperkuat ketahanan budaya bangsa. [5] Hal ini sesuai dengan BAB I: Ketentuan Umum dalam pasal 1 mengenai film adalah karya seni budaya yang merupakan pranata sosial dan media komunikasi massa.[6]
Dalam sistem perfilman Indonesia yang berkembang sesuai dengan undang-undang perfilman senantiasa terdapat hubungan struktural dan hubungan fungsional serta hubungan evolusioner antara lembaga perfilman dengan pemerintah dan masyarakat dalam sebuah sistem yang terkait dan saling memengaruhi dari waktu ke waktu secara dinamis, berubah dan berkesinambungan. Hal itu terkait dengan peran serta masyarakat dalam upaya mengimbangi peran pemerintah.
2.      Peran-Peran Negara dalam Sistem Perfilman Indonesia
Industri perfilman Indonesia telah berkembang dengan cukup baik dari masa ke masa. Pemerintah selaku penyokong industri perfilman yang ada di Negara ini telah berkontribusi memberikan peran ataupun jasa demi perfilman Indonesia yang lebih baik. Salah satunya Negara (pemerintah) telah memberikan sebuah lembaga di tengah-tengah masyarakat dalam melakukan pengawasan dan pembinaan yaitu Lembaga Sensor Film serta Dewan Film dan Badan Pertimbangan.
ü  Lembaga Sensor Film
Film harus memiliki surat lulus sensor dari lembaga sensor film (LSF), mencakup film cerita (fiksi) dan film noncerita (fakta) yang mengandung unsur naratif (tema atau cerita) dan unsur sinematik. Pemerintah Republik Indonesia juga mengadopsi penyensoran film, yang dilakukan oleh sebuah panitia yang disebut panitia Sensor Film tahun 1959. Sampai sekarang, penyensoran film dalam sistem perfilman Indonesia tetap eksis dilakukan oleh satu badan atau lembagayang berasal dari unsur pemerintah dan masyarakat. Secara substansial pedoman dalam penyensoran film kemudian diperluas sesuai perkembangan zaman dalam pedoman sensor film yang dimiliki oleh badan Sensor Film (BSF) yang dibentuk berdasarkan UU perfilman 1964 dan dikembangkan dalam UU Perfilman 1992 oleh Lembaga Sensor Film (LSF).
Penyensoran film tersebut dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dari pengaruh negatif film dan iklan film akan adanya kekerasan, perjudian, penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya serta pornografi. Hal ini merupakan manifestasi dari tugas pemerintah (Negara) yang wajib melindungi segenap bangsa Indonesia. Dalam sistem perfilman Indonesia yang berlaku mulai tahun 2009, LSF berpedoman film dan iklan film yang mengandung tema, gambar, suara dan teks terjemahan yang tidak sesuai dengan kriteria sensor, akan dikembalikan kepada pemilik film dan film iklan untuk diperbaiki. LSF bertanggungjawab kepada presiden melalui menteri, berkedudukan di ibukota Negara Republik Indonesia. Selain itu, LSF juga dapat membentuk perwakilan di ibukota provinsi.[7]
            Dari kedua lembaga tersebut, masing-masing membuat sistem atau tatanan yang sedemikian teraturnya. Hal ini sangat diharapkan untuk tatanan lebih baik dari masa ke masa dalam sistem perfilman Indonesia, agar nantinya perfilman Indonesia tidak pernah redup dan kalah dengan daya saing film luar negeri. Namun, perlindungan dalam bentuk sensor ini tidak cukup dengan hanya melakukan sensor dalam film. Perlindungan harus dijamin dengan memastikan sebuah film tertentu sesuai kriteria yang ditetapkan badan pengelompokkan film.[8]
ü  Dewan Film dan Badan Pertimbangan
Pengawasan pemerintah terhadap perfilman dilakukan oleh Dewan film Indonesia (DFI) yang dibentuk tahun 1959 (pada masa demokrasi terpimpin). Dewan Film Indonesia merupakan instansi pemerintah yang bersifat antardepartemen, anggotanya terdiri atas wakil-wakil departemen terkait yaitu: Departemen Perdagangan, departemen perindustrian, pendidikan dasar dan kebudayaan, departemen dalam negeri dan staf umum Angkatan darat. Namun, tidak hanya dari instansi pemerintah, anggotanya juga banyak dari berbagai unsure masyarakat yang merupakan contoh korporatisme masyarakat.[9] Tugasnya yaitu merumuskan kebijaksanaan pemerintah dalam menghadapi berbagai masalah perfilman pada umumnya. Hal itu mencakup izin, fasilitas dan bantuan pemerintah tentang pembuatan film, pengedaran film, pertunjukkan film, impor dan ekspor film. Kemudian, pada masa orde baru dilaksanakan sesuai UU No.8 tahun 1992, dimana pengawasannya melibatkan masyarakat dalam Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) yang menggantikan Dewan Film Indonesia.
Pengawasan pemerintah dalam sistem perfilman Indonesia yang berlaku saat ini lebih longgar dibanding sebelumnya. Izin pemerintah saat ini hanya diwajibkan bagi pembuatan film yang dilakukan oleh pihak asing di Indonesia tanpa dipungut biaya. Sedang bagi pelaku kegiatan perfilman dan pelaku usaha perfilman yang memiliki badan usaha yang berbadan hukum Indonesia, hanya menyampaikan pemberitauan tertulis kepada pemerintah tanpa dipungut biaya. Untuk hal ini pemerintah wajib melindungi pembuatan film yang telah dicatat dan pengumumannya secara berkala kepada publik tentang data judul film yang telah tercatat. Meskipun demikian, usaha pengedaran film, pertunjukkan film, penjualan/penyewaan film dan impor film tetap memerlukan izin dari pemerintah, kecuali usaha penjualan film dan penyewaan film yang dilakukan oleh perseorangan. Dalam upaya menghindari monopoli dalam perfilman, pemerintah melarang usaha perfilman memliki usaha perfilman lain. Selain itu juga dilarang mempertunjukkan film yang hanya berasal dari satu pelaku usaha pembuatan film dan pengedaran film atau importir film melebihi 60% jam pertunjukkannya selama enam bulan berturut-turut.
Pemerintah saat ini juga wajib mencegah film impor yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, etika, moral, kesusilaan, dan budaya bangsa, serta membatasi film impor dengan menjaga proporsi antara film impor dan film Indonesia. hal ini guna mencegah serbuan budaya asing.[10]
3.      Peran-Peran Masyarakat dalam Sistem Perfilman Indonesia
Peran insan perfilman (masyarakat) pada saat ini dilaksanakan secara bebas berkreasi, namun tetap harus diimbangi dengan tanggung jawab sosial, terutama yang berkaitan dengan agama, kebudayaan, etika, moral dan kesusilaan. Berikut adalah penjelasan kebebasan berkreasi dan tanggung jawab dalam peran masyarakat sebagai insan perfilman;
ü  kebebasan berkreasi dan tanggung jawab sebagai insan perfilman
Pembuatan film didasarkan atas kebebasan berkarya yang bertanggung jawab. Insan perfilman bebas berkreasi, berkarya dan bertanggung jawab dalam pembuatan film yang dilakukan dalam rangka memelihara dan mengembangkan budaya bangsa untuk mewujudkan kebebasan berkreasi dan berkarya dilaksanakan dengan memperhatikan kode etik dan nilai-nilai keagamaan yang berlaku. Kode etik film dibuat dan diterapkan oleh masyarakat perfilman. Berdasarkan UU sistem Perfilman Indonesia tahun 2009, sangat jelas bahwa harus menghargai prinsip kebebasan berekspresi (freedom of the movies). Namun kebebasan dalam sistem Perfilman Indonesia itu harus diimbangi dengan tanggung jawab sosial, terutama yang berkaitan dengan agama, kebudayaan, etika, moral, kesusilaan yang tidak banyak mengandung unsur nuansa politik.[11]
Dengan adanya kebebasan berekspresi dan tanggung jawab, insan perfilman dapat mengeluarkan idea tau gagasan yang lebih baik bagi film Indonesia namun tetap dengan tanggung jawab. Selain itu, terdapat juga Badan perfilman Indonesia yang merupakan wadah peran serta masyarakat berkedudukan di Ibu kota Negara Republik Indonesia.  peran serta masyarakat masa kini dapat dilakukan dalam bentuk: apresiasi dan promosi film, pengarsipan film, memberikan penghargaan, menyelenggarakan pendidikan atau pengembangan perfilman. Selain itu masyarakat juga dapat berperan serta dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi perfilman, serta mempromosikan Indonesia sebagai lokasi pembuatan film luar negeri. Maka itu, badan perfilman Indonesia bertugas menyelenggarakan festival film di dalam negeri, menyelenggarakan pekan film ataupun mengikuti festival film, serta memberikan penghargaan. Selain itu, badan perfilman Indonesia dapat juga memperoleh bantuan dana dalam bentuk hibah dari pemerintah dan atau daerah yang akan diaudit oleh BPK (Badan Pengawas Keuangan) Indonesia. Peran serta masyarakat dan pelembagaannya dalam badan perfilman Indonesia, juga menjamin hak tiap masyarakat insan perfilman dalam berkreasi, berinovasi, berkarya dalam bidang perfilman serta memperoleh jaminan sosial, keselamatan, kesehatan, dan perlindungan hukum serta membentuk organisasi profesi yang memiliki kode etik. Insan perfilman Indonesia diwajibkan juga mengutamakan dalam pembuatan film dalam negeri sehingga tidak didominasi oleh insan perfilman dari luar negeri.[12]
Selain hal tersebut, dalam banyak penelitian tentang dampak film terhadap masyarakat, hubungan antara film dan masyarakat selalu dipahami linier yang artinya film selalu mempengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan muatan pesan (message) di baliknya, tanpa pernah berlaku sebaliknya. Film adalah potret dari masyarakat di mana film itu dibuat, sebagai refleksi dari masyarakatnya.[13]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
ü  Pemerintah (Negara) dan masyarakat merupakan pemangku kepentingan (stakeholders) perfilman.
ü  Peran Negara :
o   Membentuk lembaga Dewan Film dan Badan Pertimbangan serta Lembaga Sensor Film.
o   Pengawasan pemerintah dalam hal izin pemerintah saat ini hanya diwajibkan bagi pembuatan film yang dilakukan oleh pihak asing di Indonesia tanpa dipungut biaya.
o   pemerintah wajib melindungi pembuatan film yang telah dicatat dan pengumumannya secara berkala kepada publik tentang data judul film yang telah tercatat.
o   Pemerintah saat ini juga wajib mencegah film impor yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, etika, moral, kesusilaan, dan budaya bangsa, serta membatasi film impor dengan menjaga proporsi antara film impor dan film Indonesia.
ü  Peran Masyarakat :
o   Peran insan perfilman (masyarakat) pada saat ini dilaksanakan secara bebas berkreasi, namun tetap harus diimbangi dengan tanggung jawab.
o   peran serta masyarakat masa kini dapat dilakukan dalam bentuk: apresiasi dan promosi film, pengarsipan film, memberikan penghargaan, menyelenggarakan pendidikan atau pengembangan perfilman.
o   Terdapat Badan perfilman Indonesia yang merupakan wadah peran serta masyarakat.
o   Peran serta masyarakat dan pelembagaannya dalam badan perfilman Indonesia,  menjamin hak tiap masyarakat insan perfilman dalam berkreasi, berinovasi, serta memperoleh jaminan sosial, keselamatan, kesehatan, dan perlindungan hukum serta membentuk organisasi profesi yang memiliki kode etik.


DAFTAR PUSTAKA

Buku :

Arifin, Anwar., 2011, Sistem Komunikasi Indonesia, Bandung, Remaja Rosdakarya.
Nuraida, Ida., 2008, Manajemen Administrasi Perkantoran, Yogjakarta, Kanisius.
Irawanto, Budi., 1999, Film, Ideologi, dan Militer: Hegemoni Militer dalam Sinema
      Indonesia,  Yogjakarta: Media Pressindo.
Effendy, Heru ., 2008,  Industri Perfilman Indonesia, Jakarta, Erlangga.
Surbakti, Ramlan., 2000, Memahami Ilmu Politik, Jakarta, Grasindo.

Internet:






[1] Ida Nuraida, Manajemen Administrasi Perkantoran, (Yogjakarta: Kanisius, 2008) Hal 3
[2] Diakses dari http://digilib.unila.ac.id/428/3/BAB%20I.pdf pada tanggal 07 Juni 2016, pukul 23:02 wib.
[3] Budi Irawanto, Film, Ideologi, dan Militer: Hegemoni Militer dalam Sinema Indonesia, (Yogjakarta: Media Pressindo, 1999) Hal 12
[4] Anwar Arifin, Sistem Komunikasi Indonesia, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011) Hal 171.
[5] Anwar Arifin, Sistem Komunikasi Indonesia, Hal 172
[6] Diakses dari https://kejaksaan.go.id/upldoc/produkhkm/UU%2033%20Tahun%202009.pdf, pada tanggal 07     Juni 2016,  pukul 23:14.
[7] Anwar Arifin, Sistem Komunikasi Indonesia, Hal 175
[8] Heru Effendy, Industri Perfilman Indonesia, (Jakarta: Erlangga, 2008), Hal 9.
[9] Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik, (Jakarta: Grasindo, 2000), Hal 134.
[10] Anwar Arifin, Sistem Komunikasi Indonesia, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011) , Hal 177-176
[11] Anwar Arifin, Sistem Komunikasi Indonesia, Hal 173
[12] Anwar Arifin, Sistem Komunikasi Indonesia, Hal 180-182.
[13] Budi Irawanto, Film, Ideologi, dan Militer: Hegemoni Militer dalam Sinema Indonesia, (Yogjakarta: Media Pressindo, 1999) Hal 12

 
M.E.D.I.N.A Blogger Template by Ipietoon Blogger Template